Teman
Tepat tanggal 27 malam, aku mendapat pesan di ponselku. Rupanya pesan itu dikirim dari teman dekatku. Disana, ia berbicara panjang, sehingga aku harus meluangkan banyak waktu, dan kebetulan aku bisa melakukannya karena aku hanya sedang mewarnai rambutku dengan warna violet.
Aku tahu persis apa yang ia rasakan, rasa yg memicu dia untuk mengungkapkan semua ini. Tanpa ragu, kukumpulkan niat untuk menghampirinya seusai aku mengajar di siang hari. Bukan masalah yang menimbulkan perpisahan, atau hal buruk lainnya. Memang. Tapi tetap saja, aku ingin semua orang terdekat ku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diantara kami.
Orang yang pertama kali ku hubungi untuk ityu adalah teman yang kutemui di dunia maya. Aku suka responnya. Ia mengkhawatirkan teman dekatku tanpa perlu menghakimiku. Aku pun bisa tertidur sedikit lebih tenang. Setidaknya dapat mengumpulkan energi untuk hari esok.
Singkat cerita, hari telah berganti, aku pun telah usai pamit dari rumah muridku. Aku bergegas pulang untuk merangkai kegiatan selanjutnya. Makan. Mandi. Memilih pakaian terbaik untuk meningkatkan suasana. Sebelum berangkat ke rumah teman dekatku, aku menghubungi kekasihku. Naluri. Aku merasa penting atau tidak baginya, aku ingin ia tahu ini semua.
Aku menghubunginya dan ia menjawab pesanku tanpa perlu ku tunggu lama. Sayang, jawabannya kala itu tidak membuatku tenang. Aku justru lebih berdebar ketika mengirim pesan untuk kekasihku dibanding bertemu teman dekatku yang baru semalam meluapkan emosinya.
Aku segera berangkat ke rumah temand ekatku setelah mematikan ponsel dan memilih untuk mendengarkan lagu di sepanjang jalan. dan setibanya disana, kami saling bertatap muka, bahkan saling tertawa tanpa alasan.
Di tengah kami melempar canda, ponselku lagi-lagi berbunyi yang menandakan ada pesan dari kekasihku. Ia berkata bahwa aku tak lagi sama. Namun ia juga menyebutku masih tak kunjung berubah. Ini semua berawal dari aku yang meminta kesediaannya untuk kuhampiri dan membagi ceritaku, namun ia menolak untuk alasan yang lebih baik. Ujarnya.
Aku berpikir, untuk kasus ini kami tak lagi sefrekuensi. Biarlah kami jalan dengan membawa pikiran kami masing-masing. Namun rupanya kalimatku menyulut emosinya. Dan tentu itu membuatku tak nyaman. Pada akhirnya, aku menawarkannya untuk menjadi temanku pada masa ini. Dan ia menyetujuinya. Tanpa sungkan, ia pun meminta izin untuk memblokirku. Aku kira itu tindakan yang kekanakan. Namun tak apa jika harus dibandingkan dengan keberadaanku yang hanya bisa membuatnya terluka.
Entah seperti apa nanti, aku berharap ia mendapatkan yang baik. Karena dia orang yang baik. Semua orang tahu itu.
<$BlogCommentBody$>
<$BlogCommentDeleteIcon$><$BlogItemCreate$>